Rabu, 15 April 2020

Apa Kata Pembaca “Aku Bukan Gay?”



Aku Bukan Gay adalah buku keempat saya setelah Hikayat Tanah Beraroma Rempah (2015), Catatan dari Balik Jendela Sekolah (2015), Misteri Nenek Pemuntah Darah (2016). Buku ini diterbitkan Loka Media pada 2016.

Berikut ini, saya cantumkan beberapa komentar pembaca setelah mengkhatamkan buku saya ini.

Deta NF, “Sekumpulan cerita oleh Thomas Utomo yang mengusung genre sastra kontemporer ini layak dinikmati serayamenghabiskan satu gelas cokelat panas pada petang yang santai. Dengan bahasa yang sederhana, makna serta nilai realis yang disuguhkan mampu diserap denganmudah. Mengusung tema-tema cerita yang berani dan out of the box, Aku (Bukan) Gay memberikan first impression yang baik pada sastra kontemporer yangditerbitkan LokaMedia.” https://www.goodreads.com/book/show/34215316-aku-bukan-gay?from_search=true&from_srp=true&qid=mu6tTyS6Zt&rank=1

 Sekar Rahayu, “Judul yang agak kontroversi, ya, tapi karena itulah ane mau beli, GanSis. Penasaran isinya. Wikwikwik.
Beliau dikenal sebagai penulis anak-anak. Karya beliau juga acapkali mejeng di koran lokal dengan tema kehidupan yang paling dominan. Sebelumnya, ane juga pernah baca karya beliau yang juga kumpulan cerpen berjudul LEPAS RASA, jadi ane agak heran aja ketika tahu buku itu adalah buah tangan beliau. Agak oob, rasanya.
Dan..., setelah ane baca ini buku, ternyata isinya tak melulu soal gay walaupun sebagian besar memang menceritakan para lelaki yang memiliki perasaan tidak semestinya.
Eits, tapi jangan nethink dulu, GanSis. Walau judulnya begitu, tetapi isinya enggak semata menampilkan adegan ketidaksenonohan. Bang Thomas justru memasukkan perasaan-perasaan para lelaki---yang merasa dirinya berbeda---hingga tersampaikan dengan sangat baik. Para pembaca akan dibuat untuk turut merasakan apa yang sebenarnya menggelayut di benak mereka---para tokoh utama. Dampaknya, itu akan menciptakan sudut pandang berbeda pada pembaca. 
Setidaknya, satu dari banyak hal yang bisa ane dapet di sini adalah rasa kemanusiaan. Yak, dari buku ini ane menyadari bahwa memanusiakan manusia di jaman sekarang semakin samar. Tahulah, ya, gimana dengan entengnya orang-orang ngatain sesama dengan sebutan hewan.”https://m.kaskus.co.id/post/5de86a97f0bdb228084ce6c9?fbclid=IwAR0iekYrRozb2LiZuD-GO1bcpfJYeBA7Tv9LUTQ1qZkdzbQCZ8dddcOI5EM

 Ika Mayang, Mengusung tema yang berupa isu-isu yang sedang marak terjadi, seperti (maaf) teroris, penyimpangan seksual, prostitusi, di mana di tangan Kak Totok yang dikemas dengan apik, isu itu jadi sedikit lebih ‘ringan’.
Masing-masing cerita membawa pesan yang berbeda. Jadi tidak salah kalau kita bilang bahwa buku ini kaya banget akan nilai moral kehidupan.
Orang yang mengalami penyimpangan seksual —dan juga depresi— sebaiknya jangan dihindari tapi didekati lalu "dirangkul" agar mereka tidak terperangkap dalam "kegalauan" tersebut. Ini pendapatku yak, don't bully me.
Kita juga diberi tahu bahwa untuk menyelesaikan sebuah masalah, tidak perlu menggunakan kekerasan alias adu otot atau bahkan buat drama di sosial media (insta story misalnya) tetapi dengan strategi yang ‘pintar’.
Buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan lho. Kalau readers ingin mendapat pencerahan dalam hidup, bacalah buku ini." https://www.instagram.com/p/Bk0E61-nITo

Amanaturrosyidah, “Jujur, aku langsung jatuh hati dari cerita pertama. Bukan hanya karena cara penulisannya yang rapi serta gayanya yang mengalir, tapi juga karena ide/gagasan cerita yang sangat cerdas dan sarat akan kritik 'halus' terhadap isu populer di sekitar seperti masalah 'agama teroris' (maaf, mungkin istilah yang kugunakan kurang enak didengar/dibaca) yang mengangkat pandangan masyarakat (bahkan di negara yang mayoritas muslim) tentang orang-orang yang hidup dengan pilihannya sendiri dalam menjalankan agama (ber-niqab). Ada juga isu tentang gay -yang entah kenapa, meskipun banyak seruan menentangnya, tapi LGBT tetap berkembang hampir menjadi bagian dari 'budaya'-. Tentang pencarian sejati manusia. Dan banyak isu lainnya, yang ketika membaca kita akan bereaksi "Oh!" sambil nyengir, membayangkan satu-dua kasus disekitar kita yang 'disentil' dalam buku ini.
Aku suka bagaimana beliau menuliskan sudut pandangnya terhadap isu-isu tersebut menjadi sebuah karya yang ringan namun tetap sarat akan pesan dalam berbagai genre penulisan. Mulai dari keluarga, hingga ke horror.” https://web.facebook.com/photo.php?fbid=677019175795054&set=gm.1805009103077461&type=3&eid=ARCNzb-LmRBhtcIkQNjMRw3i5G3O0hnO1cmxz-vTyCXzxItBCYDMAhPN96a-8Pm25hW-qPC_bjAPOhbW&ifg=1


 Irnawati, “Penasaran aja kegalauan seorang pria yang juga suka pria. Ini bukan karena saya seorang fujoshi tapi memang tulisan seperti itu jarang ada .mereka kebanyakan takut duluan dihujat. Mas aja cuma karena judul nya udah dicap ini-itu.Hah padahal belum tentu kan isinya. Tapi jujur saya menantikan novelnya, Mas. Dari segi penuturan kalimat juga gak berat aku suka. Eh, malah di-review di sini. Bagen Bae ya, Mas aku soalnya bukan seorang ahli hehe tapi jujur aku menunggu versi novelnya. (via WhatsApp).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar