Senin, 13 April 2020

Menyingkap Kedalaman Batin Calabai


Judul         :   Sabda Luka
Pengarang :   S. Gegge Mappangewa
Penerbit     :   Indiva Media Kreasi
Tebal         :   288 halaman
ISBN         :   978-602-6334-47-3

Waria—akronim wanita pria—merupakan terminologi yang mengemuka di Indonesia, sejak tahun 1978, dipopulerkan Menteri Agama Alamsjah Ratoe Prawiranegara, menggantikan istilah wadam—Hawa Adam—yang dimasyurkan Ali Sadikin, Gubernur Jakarta era 1960-an.
Ada beragam sebutan lain bagi golongan satu ini. Orang Jawa, misalnya, menyebut banci—singkatan dari bandhule cilik atau testisnya kecil, makna lainnya adalah bernyali kecil atau pengecut. Orang Aceh menyebutnya khunsa, sedang masyarakat Bugis menjuluki calabai.
Kesemua label itu merujuk kepada sosok pria bersifat dan bertingkah laku seperti wanita atau pria yang mempunyai perasaan sebagai wanita (KBBI, halaman 1269).
Keberadaan waria sendiri—mungkin—setua peradaban manusia. Hanya saja, kehadirannya kerap dimarginalkan, bahkan dinafikan.
Sealur dengan kehadirannya yang kerap diabaikan, tidak banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat persoalan waria sebagai topik utama. Novel Sabda Luka karya S. Gegge Mappangewa, salah satunya.
Tokoh sentral novel ini adalah Kamaruddin dan Tiara. Keduanya sepasang calabai atau waria yang saling jatuh cinta dan memutuskan tinggal bersama. Dalam perkembangannya, Kamaruddin menampilkan diri sebagai laki-laki atau suami, sedangkan Tiara menjadi perempuan atau istri.
Mungkin, upaya pengarang dalam menyatukan dua sosok melambai menjadi pasangan kekasih, terasa janggal. Sebab—biasanya—kaum melambai memilih pasangan sesama jenis yang lebih jantan dari dirinya. Namun, upaya pengarang tersebut, menjadi bisa dipahami jika kita mencermati Caitlyn Jenner dan Sophia Hutchin, dua waria pesohor Hollywod yang menjadi pasangan kekasih.
Kembali kepada kisah Kamaruddin dan Tiara. Kendati melampaui bilangan tahun dalam rukun dan saling mencinta, hati keduanya tidak lepas dari ketakutan: suatu ketika, orang-orang tahu keadaan sesungguhnya; mereka sepasang calabai yang berpura-pura menjadi suami-istri. Ketakutan itu menguat manakala seorang tetangga berusaha merudapaksa Tiara lantaran terpikat kecantikan dan kemolekannya.
Novel berlatar belakang kampung Bugis di Lautang Salo, Sidenreng Rappang ini cukup detail melukiskan pergolakan batin calabai. Misalnya, pertentangan pribadi mengenai pertanyaan menjadi calabai itu takdir atau pilihan?
Di halaman 143-144, dituturkan, “Tiara menangis ... Kali ini, tangisnya bukan karena luka, tapi karena sesal pada takdirnya yang terlahir sebagai calabai. Takdir? Dia menggeleng pelan. Dia selalu berusaha yakin bahwa hidup jadi calabai bukanlah takdir, tapi pilihan.”
Jika ditarik ke dalam kehidupan nyata, tuturan tersebut sesuai dengan jawaban Solena Chaniago—waria asal Sumatra Barat yang beberapa kali bermain dalam film Hollywood—waktu ditanya Trans 7 dan Kompas TV, kurang lebih seperti ini, “Menjadi waria itu takdir atau pilihan?”
Gejolak hati berikutnya, mengenai hidup yang senantiasa dalam persimpangan. Dalam novel digambarkan, “... Tiara semakin merasa bahwa dia selalu berdiri di persimpangan. Lama sekali dia tak bisa menentukan pilihan, menjadi lelaki sejati atau menjadi calabai. Tapi, saat menemukan dirinya dalam pilihan calabai, kini dia dihadapkan pada pilihan dibunuh atau membunuh demi cinta.” (halaman 157).
Penggambaran tersebut tidak jauh berbeda dengan kata-kata Avi—waria model video klip grup band Naif, berjudul Posesif—saat diwawancarai salah satu acara di SCTV. Dia mengatakan, waria bergelantungan di antara pria dan wanita. Kedudukannya tidak jelas.
Dalam novel ini ditampilkan juga sekelumit latar belakang perubahan identitas seksual seseorang, seperti lingkaran pergaulan dan rentangan jarak terlalu jauh dengan orang tua yang berjenis kelamin sama (halaman 19-20, 61).
Secara keseluruhan, novel ini menampilkan pertautan kuat dengan realitas sosial. Dalam novel ini, S. Gegge Mappangewa tidak sedang menganggit fiksi, melainkan menuliskan kehidupan. Dan latar belakang sebagai pendidik, kentara dalam cara pengarang menuturkan perihal waria dan problematikanya: tidak membela, tidak pula menghakimi. Pengarang menggelarkan kenyataan hidup secara terbuka beserta konsekuensinya. Pembaca dapat merenung dan memutuskan: memilih yang mana?

*Thomas Utomo adalah guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar