Rabu, 16 Desember 2020

Fiksi Islami, Hedonisme, dan Kapitalisme




Dimuat di Radar Banyumas Minggu, 7 Juni 2020

Apabila mengunjungi toko buku, kita dapat dengan mudah menemukan karya sastra—kebanyakan berjenis novel—yang disebut-sebut sebagai fiksi islami. Tanpa membuka isinya terlebih dulu, ciri yang kentara dari karya jenis ini biasanya ada pelabelan novel islami atau fiksi islami di bagian sampul. Dari segi judul pun, umumnya memiliki ciri khusus, yakni memakai terminologi agama, umpamanya: Dalam Mihrab Cinta dan Tahajud Cinta. Soal ilustrasi sampul, acapkali menampilkan sosok perempuan berjilbab atau bercadar dengan latar belakang bangunan ikonis Islam, umpamanya masjid. Guna meyakinkan, pengarang menggunakan nama pena yang kearab-araban, seperti Habiburrahman el Shirazy, Geidurrahman el Mishry, atau Taufiqurrahman el Azizy.
Lebih lanjut, jika kita menelaah isinya, karya-karya semacam ini bisa sarat akan khotbah agama yang ditampilkan secara gamblang. Tokoh-tokohnya memiliki perbedaan karakter hitam-putih yang mencolok jelas. Dari segi penyajian, seringkali fiksi islami merupakan karya realis dan memiliki kecenderungan pemaparan bergaya konvensional, kurang menunjukkan kebaruan. Kendati demikian, fiksi islami—sekali lagi, yang kebanyakan berjenis novel—menjadi salah satu arus utama sastra Indonesia, terutama sejak era Reformasi. Angka penjualannya mencengangkan dan banyak dialihwahanakan—dalam bentuk sinetron maupun film—dengan penonton membludak.
Pertanyaan yang kemudian dapat diajukan adalah benarkah fiksi islami yang beredar zaman ini betul-betul merepresentasikan ajaran Islam dan memiliki manfaat luas bagi kemanusiaan sesuai esensi Islam, yakni rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi semesta?
Menjawab pertanyaan ini, kita perlu mencermati latar belakang para pengarang fiksi islami. Maka akan kita temukan, para pengarang yang karya-karya fiksi islaminya mendominasi khazanah sastra Indonesia selama kurang-lebih dua dasawarsa ini merupakan anggota Forum Lingkar Pena yang memiliki afiliasi dengan pengajian Tarbiyah. Dengan demikian, pandangan keagamaan yang mewarnai karya-karya mereka merupakan pandangan keagamaan sesuai pemahaman kelompok atau komunitas tersebut. Sangat mungkin pandangan keagamaan kelompok atau komunitas ini berbeda dengan kelompok atau komunitas Islam lain. Namun yang pasti, dalam tubuh Islam, kebenaran pandangan maupun praktik keagamaan bukan menjadi milik kelompok atau komunitas tertentu. Kebenaran yang hakiki—dalam internal Islam—adalah yang sesuai kitab suci dan petunjuk nabi.
Dilihat dari tema maupun esensinya, karya-karya islami—secara umum—merupakan kisah cinta berbalut agama dengan latar belakang kehidupan luar negeri atau lingkungan akademis. Kisah cinta yang disuguhkan pengarang penuh romantisme dan sentimental. Sebut sebagai contoh, novel Ayat-Ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman el Shirazy serta Assalamualaikum, Beijing, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, dan Surga yang Dirindukan karya Asma Nadia.
Formula cerita tersebut, sebetulnya, tidak jauh berbeda dengan novel-novel populer karya Marga T., Mira W., atau Ilana Tan. Kesemuanya memaparkan kehidupan masyarakat urban yang hedonis: bergaya hidup modern, karier cemerlang, harta berlimpah, dan seterusnya. Bedanya, novel-novel karya penulis populer ini tidak dibumbui agama.
Setali tiga uang dengan novel-novel populer, karena cenderung berkutat dengan persoalan cinta beserta tetek bengek-nya, banyak fiksi islami yang kurang dalam menggali dan mengangkat isu-isu krusial kemanusiaan seperti politik dan ekologi—misalnya. Kalau pun disinggung, sekadar sambil lalu, bukan merupakan tulang punggung cerita. Akibatnya, kebanyakan fiksi islami kurang berkontribusi dalam hal pengasahan daya kritis pembaca serta kurang terlibat dalam penggarapan persoalan kemanusiaan yang lebih esensial. Ini tentu bertentangan dengan konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Dengan mempertimbangkan karya-karya sebelumnya yang telah laris diminati, maka kecenderungan karya-karya yang dihasilkan kemudian, masih dan tampaknya akan terus berkiblat kepada kepentingan pasar. Disadari atau tidak, fiksi islami justru bisa menjadi bagian dari siklus kapitalis, apabila cuma berorientasi meraup keuntungan dan popularitas.

*Thomas Utomo adalah guru SDN 1 Karangbanjar, penulis, dan editor lepas. Tinggal di Bancar Badhog Centre, Purbalingga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar