Rabu, 16 Desember 2020

Teka-Teki Tenis, Sosok Misterius, dan Cinta Berlarat

 


Resensi Thomas Utomo di http://www.takanta.id/2020/11/teka-teki-tenis-sosok-misterius-dan.html

 

Judul             :   Perempuan Misterius

Pengarang   :   Nicco Machi

Penerbit        :   Indiva Media Kreasi

Cetakan        :   Pertama, Juli 2020

Tebal             :   240 halaman

ISBN              :   978-623-253-004-1

Harga            :    Rp 60.0000

 

Perempuan Misterius adalah Juara II Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Remaja yang diadakan Penerbit Indiva Media Kreasi.

Secara ringkas, novel ini menceritakan kehidupan Iska, remaja SMA penggemar olahraga tenis lapangan. Namun, ayah—orang tua tunggalnya—kurang mendukung kegemaran si anak semata wayang. Lewat jalan berliku, akhirnya Iska diizinkan mengikuti ekstrakurikuler tenis lapangan dengan sejum lah syarat dan perjanjian. Tantangan kembali menghadang Iska manakala lingkungan sekelilingnya mempermasalahkan: bagaimana bisa pemain tenis lapangan mengenakan jilbab? Apa kata dunia? Iska menjawab semua halang rintang itu dengan terus berlatih, hingga satu persatu prestasi membanggakan, menghampirinya.

Tantangan kembali timbul ketika ayah dimutasi ke sebuah kota kecil di Jawa Timur. Iska kesulitan menemukan tempat untuk berlatih tenis termasuk kesukaran mencari pelatih dan lawan tanding. Tantangan berikutnya susul-menyusul: ada Tante Rina, sosok misterius yang pandai mengayun raket tenis, namun tidak menunjukkan sikap bersahabat kepada Iska. Anehnya, dia selalu menguntit ke mana pun Iska pergi. Juga drh. Norman Jupiter, sosok ramah dan aktivis perlindungan satwa, yang menginspirasi Iska untuk menjadi dokter hewan, tapi ternyata memiliki kepribadian kontradiktif. Keduanya menyeret Iska dalam pusaran teka-teki beraroma cinta berlarat dan upaya pencelakaan bertubi-tubi. Tatkala terkapar di tepi jurang kematian, Iska justru menemukan fakta mengapa sosok dan jejak ibu kandungnya bisa menghilang sama sekali dari kehidupan keluarganya?


 

Membaca novel remaja ini akan membuat pembaca dirongrong rasa penasaran terus-menerus. Pengarang pandai sekali mengocok alur cerita, termasuk menarik-ulur tegangan masalah. Ibarat memasuki sebuah benteng, pembaca diajak membuka lapis demi lapis pintu rahasia, hingga mengantarkan ke ujung tak terduga. Tetapi jika pembaca teliti, sesungguhnya, pengarang sudah menaburkan kunci jawaban masalah sedari mula cerita. Dalam hal ini, tidak ada tokoh yang keberadaannya tak berguna, tidak ada detail cerita yang mubazir.

Keunggulan lainnya, novel ini juga menyisipkan isu ekologi, wabil khusus perihal animal abuse (hal. 72-74, 98, 132-140, dsb.) di samping tema problematika remaja, keislaman, (hal. 63-66, 113-118, dsb.), kesehatan (hal. 122, 182-189), dan kuliner (hal. 171-183) secara smooth.


 

“Apa yang harus Anda lakukan kalau melihat atau mengetahui tindakan animal abuse? … Anda bisa saja merekam perbuatan itu untuk dijadikan bukti, tapi lebih baik jangan menviralkannya di media sosial … Kita tidak mau ‘kan, video-video semacam video penenggelaman kucing tadi menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa? Ingat, fokus kita adalah menyelamatkan hewannya. Jika memungkinkan, segeralah bawa hewan yang terluka itu ke dokter hewan.” (hal.139-140).

 

*Thomas Utomo adalah guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga (sejak 2019), sebelumnya berkarier di SD UMP, Banyumas (2012-2018). 

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar